Selasa, 27 Oktober 2009

Gagal di Madrasah, Datangi Hingga ke Rumah

Selasa, 20 Oktober 2009 09:43:05 - oleh : redaksi - dilihat 5

Tak Kenal Lelah Upaya Rekanan Mencari ‘Berkah’

Awal Maret lalu, tersiar kabar adanya bantuan rehabilitasi dan peningkatan sarana bagi seluruh madrasah ibtidaiyah dari departemen agama. Kabar ini ibarat berkah bagi rekanan. Meski petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis tentang penggunaan dana hibah ini belum turun, rekanan sudah mulai bergerak. Mereka berlomba saling untuk memeroleh pemesanan sarana yang sedianya akan diadakan oleh pihak madrasah.
Meski juklak dan juknis pelaksanaan pengunaan dana dan spesifikasi barang yang bisa diadakan secara resmi belum dikeluarkan pihak Depag, rekanan tidak mau kehilangan start. Penawaran dari pihak rekanan lebih banyak berbentuk sarana buku pembelajaran dan alat peraga. Modus penawaran dilakukan dengan meminta rekomendasi pihak Depag maupun ketua kelompok kerja madrasah (KKM).
Sebagai langkah akhir, pihak rekanan mendatangi madrasah atau sekadar menelepon para kepala madrasah. “Banyak rekanan yang datang ke kantor Mapenda Depag untuk mengajak kerjasama dan meminta rekomendasi sehingga mereka bisa leluasa menawarkan diri ke para kepala madrasah,” demikia kasi Mapenda (Majelis Pendidikan Agama) Kantor Depag Kabupaten Malang, Drs Abdul Rahman MPd.
Bahkan, lanjut pria yang akrab disapa Gus Dur ini, mereka tak segan-segan menawarkan iming-iming fee sebagai imbalan. Dengan membawa draf juknis penggunaan hibah, rekanan yang dimaksud Abdul Rahman mencoba meyakinkan pihak Mapenda agar mengeluarkan rekomendasi.
“Laporan yang masuk ke kami dari beberapa kepala madrasah juga berani mengaku-aku telah mendapatkan ijin atau rekomendasi dari Mapenda. Padahal, semua itu tidak pernah kami lakukan. Pihak Depag tidak ikut campur sama sekali, apalagi sampai menunjuk (merujuk, red) rekanan, karena penggunaan hibah bersifat swakelola,” tegas Gus Dur ini.
Seperti dialami kepala MI Babussalam Banjarejo, Pagelaran, Marsidi SAg, yang mengaku lebih dari sepuluh kali ditawari rekanan untuk dapat memesan sarana bahan ajar dan alat peraga dari CV-nya. Tak hanya mendatangi MI Babussalam, petugas rekanan yang dimaksud juga kerap menelepon dirinya. Bahkan ada yang sampai menyempatkan diri mendatangi kediamannya.
“Mungkin bahkan sejak akhir Januari tawaran semacam ini sudah ada. Saya sempat disodori surat penawaran dan pemesanan dan ditinggal di sini. Tawarannya memberi potongan harga antara 20 sampai 25 persen,” aku Marsidi.
Sayang, ia tidak bisa menunjukkan surat penawaran yang dimaksud dengan alasan lupa menyimpannya. Tak hanya pihak rekanan langsung, Marsidi mengatakan sempat ditawari teman sesama kepala madrasah mengatasnamakan rekanan tertentu. Tawarannya berupa ajakan untuk memilih rekanan yang sama dengan pihaknya karena kebetulan pernah memperoleh bantuan sejenis tahun sebelumnya dari pihak dinas pendidikan.
“Saya pernah ditawari menggunakan rekanan oleh KKM (ketua kelompok kerja madrasah) Pagelaran sama seperti lembaganya tapi untuk pengunaan rehab fisik,” akunya.
Pengalaman serupa pernah juga dialami kepala MI Al Khoiriyah Pakis, Drajat Sampurno. Bahkan, tawaran yang datang kepadanya lebih banyak, yakni sekitar 20 rekanan. Dikatakannya, sebagai lembaga yang pernah berpengalaman terhadap (kasus) bantuan rehab DAK dinas pendidikan tahun sebelumnya, Drajat tidak langsung mengamini dan mempercayai penawaran meski rekanan yang mendatangi membekali diri dengan salinan juknis penggunaan hibah.
“Saya tidak langsung menerima karena secara formal juknis penggunaan belum dikeluarkan pemerintah (Depag, red),” katanya dikonfirmasi lewat ponsel pribadinya. Meski mengaku banyak ditawari, Drajat tidak mau menyebut nama rekanan yang dimaksud dengan alasan tidak ingat. min-KP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar